
Muntah-muntah Saat Lebaran
Ramadan, ketika artis-artis mengeluh sepi pekerjaan, Armada malah tur ke belasan kota. Memasuki bulan suci tahun lalu, sesuatu yang buruk terjadi. Pemain bas Armada dilarikan ke rumah sakit. “Saya terserang tifus. Dokter menyarankan: Sebaiknya kamu dirawat intensif di rumah sakit,” begitu Hendra Prayoga alias Endra mengenang.
Mendengar vonis dokter, yang dipikirkan Endra saat itu, bagaimana nasib Armada? Bagaimana pertanggungjawabannya sebagai kepala keluarga terhadap istri dan anak? Tidak ada pilihan lain kecuali menyampaikan persoalan ini kepada manajemen yang menaunginya. Seberkas harapan terbit di hati, tifus tidak mustahil disembuhkan.
“Saya dirawat satu minggu di Rumah Sakit Suyoto Veteran, di Tangerang,” Endra melanjutkan. Rehat total selama sepekan dijalani. Setelah itu, suami Wiwit Grafitta kembali menggebrak panggung, merampungkan tur Ramadan yang padat. Menjelang Lebaran, Endra pulang ke Bandung.
Di sana, ia bersilaturahim dengan keluarga besar, mertua, lalu mencicipi ikan bakar, opor, dan koleksi kudapan Lebaran. Pada malam kemenangan itu, Endra baik-baik saja. Beberapa jam kemudian, bersamaan dengan terbitnya fajar, terbit pula rasa sakit dari dalam lambung.
“Saya muntah-muntah, dari pagi sampai malam. Dari muntahan berupa makanan sisa semalam, sampai muntahan berwujud cairan hitam,” sambungnya. Ayah dua anak ini dilarikan ke klinik dekat rumah. Menyaksikan kondisi Endra tanpa daya, dokter klinik tidak berani mengambil tindakan medis.
Saraf Mata Tertimpa Cairan
Dokter meminta keluarga membawa Endra ke Rumah Sakit Al Islam Bandung. Lagi-lagi, musisi kelahiran 29 November 1983 didiagnosis tifus. Ujian belum berakhir. Tujuh hari setelah vonis tifus, muncul vonis lain yang membuat Endra patah arang.
Dokter meminta keluarga membawa Endra ke Rumah Sakit Al Islam Bandung. Lagi-lagi, musisi kelahiran 29 November 1983 didiagnosis tifus. Ujian belum berakhir. Tujuh hari setelah vonis tifus, muncul vonis lain yang membuat Endra patah arang.
“Penyakit saya berubah jadi meningitis. Katanya, butuh setengah tahun agar saya bisa pulih 100 persen. Sepanjang September, saya terbujur di instalasi gawat darurat (IGD). Sampai-sampai saya ingin keluar dari Armada karena tidak ingin menyusahkan orang lain,” kata Endra lirih. Berganti bulan, ayah Ttanaya Qinthar Prayoga ini keluar dari kamar IGD, dirawat di bangsal reguler.
Naluri kebapakannya terusik. Si sulung Tanaya baru berusia dua tahun. Sementara si bungsu, Ttanaqi Falah Prayoga kala itu belum genap enam bulan. “Dalam tiga bulan, saya disuntik 90 kali. Kalau kepala keluarga sakit-sakitan, siapa yang akan mengurus anak istri?” Endra membatin.
Belum terjawab pertanyaan tadi, satu pertanyaan paling hakiki menyembul. Apa itu meningitis? Memori Endra merunut ke fase-fase awal ketika ia merasa pusing. Ubun-ubunnya seperti ditarik-tarik. Badan lemas, tidak bisa berbuat apa-apa. Seluruh tulang linu. Pernah, penglihatan Endra buram.
“Bukan karena penyakit mata. Saraf mata yang terhubung ke otak terendam cairan,” Endra menjelaskan. Beruntung, sang istri tak henti melayangkan dukungan dan doa. Bahkan, Wiwit mencari literatur ilmiah tentang definisi meningitis sebenarnya.
Meningitis itu radang selaput pelindung sistem saraf pusat. Penyakit ini disebabkan virus atau bakteri, luka fisik atau kanker. Sangat berbahaya karena menyerang area otak dan tulang belakang. Dalam beberapa kasus mengakibatkan kerusakan kendali gerak, pikiran, bahkan kematian.
“Di otak terlalu banyak cairan yang masuk sementara yang keluar segitu-segitu saja. Dan benar saja, ketika mata saya buram lalu menjalani pemeriksaan medis, dokter mata bilang penglihatan saya baik-baik saja. Tetapi ketika menjalani pemeriksaan saraf, ternyata saraf mata di otak tertimpa cairan kotor,” Endra menukas. Alhamdulillah, buram ini tidak mengakibatkan kebutaan.
“Di otak terlalu banyak cairan yang masuk sementara yang keluar segitu-segitu saja. Dan benar saja, ketika mata saya buram lalu menjalani pemeriksaan medis, dokter mata bilang penglihatan saya baik-baik saja. Tetapi ketika menjalani pemeriksaan saraf, ternyata saraf mata di otak tertimpa cairan kotor,” Endra menukas. Alhamdulillah, buram ini tidak mengakibatkan kebutaan.
Terapi dengan Ujung Bulu Ayam
Pudarnya penglihatan adalah salah satu efek samping meningitis. Sama seperti suntikan selama tiga bulan yang telah dijalani, berdampak negatif terhadap saraf pendengaran Endra. Telinganya sering terasa sakit, berpotensi mengurangi kepekaan indra dengar.
Pudarnya penglihatan adalah salah satu efek samping meningitis. Sama seperti suntikan selama tiga bulan yang telah dijalani, berdampak negatif terhadap saraf pendengaran Endra. Telinganya sering terasa sakit, berpotensi mengurangi kepekaan indra dengar.
Kondisi Endra ketika diwawancara lebih segar dari yang sudah-sudah. Ia baru bisa menangani pekerjaan ringan seperti sesi foto. Maklum, meningitis itu telah menjalar ke beberapa organ lain, salah satunya hati. Inilah yang membuat Endra kerap muntah saat bersantap. “Jadi saya tidak boleh makan makanan yang keras, yang rasanya macam-macam,” beri tahunya.
Hal lain yang membuat pangling saat bertemu, Endra terlihat kurus. Berat badannya tinggal 50 kg. Bahkan pernah mencapai titik terendah di kisaran 48-49 kg. Dalam kondisi normal, bobotnya mencapai 57 Kg. Untuk urusan makanan, Endra menjadi superselektif.
Hal lain yang membuat pangling saat bertemu, Endra terlihat kurus. Berat badannya tinggal 50 kg. Bahkan pernah mencapai titik terendah di kisaran 48-49 kg. Dalam kondisi normal, bobotnya mencapai 57 Kg. Untuk urusan makanan, Endra menjadi superselektif.
Sejak tahun lalu, ia mengucap selamat tinggal kepada buah kelengkeng, semangka, melon, dan anggur. Juga melambaikan tangan terhadap kacang-kacangan, masakan bersantan, masakan pedas, dan gorengan. Sebagai gantinya, oatmeal dengan kuah susu atau nasi putih minus lauk.
“Jujur, saya bosan dan lelah dengan menu seperti ini. Merasakan makanan tanpa rasa itu sangat menjengkelkan. Tapi kalau ingat tujuan utama adalah sembuh, saya harus menjalani ini dengan ikhlas. Paling tidak, kalau setelah makan saya mual dan muntah, ada sesuatu yang dimuntahkan,” lanjutnya.
Semua ini membuat Endra belajar tentang sebuah pelajaran klasik. Selalu ada hikmah di balik musibah. Meningitis membuatnya tersadar, ada begitu banyak cinta di sekelilingnya. Istri yang setia, anak-anak yang selalu mengajaknya bermain dan tertawa, orangtua yang menerima apa adanya, dan teman-teman Armada yang memahami kondisinya adalah harta tak terkira. Kesehatan tidak dapat diuangkan.
“Sama seperti kerja adalah ibadah, menjaga kesehatan pun ibadah. Sebulan terakhir, saya ikut terapi tiap jam 8 pagi. Menjalani refleksi dengan ujung bulu ayam yang ditusuk ke ujung jari-jari kaki, untuk merangsang saraf. Setelah itu, main dengan anak-anak. Obat yang tidak kalah penting adalah semangat untuk sembuh. Saya mohon doa dari penggemar, agar segera pulih dan berkarya lagi bersama Armada,” pinta Endra mengakhiri perbincangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar