Selasa, 14 Februari 2012

Personil Armada Band

foto profil personil Armada band, RIzal-vokalis
  • Tsandi Rizal Adi Pradana (Rizal) – Vokalis
  • Lahir di Palembang, 4 januari 1986
foto profil personil armada band, andhit-drummer
  • Meri Yandi (Andhit) – Drummer
  • Lahir di Palembang,  19 Mei 1986
foto profil personil Armada band, Mai-Gitaris
  • Andika Maihendra Yuda (Mai) – Gitaris
  • Lahir di  Palembang, 23 Juni 1985
foto profil personil Armada band, Endra-Bassis
  • Endra paryoga (Endra) – Basis
  • Lahir di Palembang 29 November 1983
foto profil personil Armada Band, Radha-Gitaris
  • Andha Gusriadi (Radha) – Gitaris
  • Lahir di Palembang, 29 Agustus 1985

Senin, 13 Februari 2012

Endra Armada terserang penyakit meningitis

Muntah-muntah Saat Lebaran
Ramadan, ketika artis-artis mengeluh sepi pekerjaan, Armada malah tur ke belasan kota. Memasuki bulan suci tahun lalu, sesuatu yang buruk terjadi. Pemain bas Armada dilarikan ke rumah sakit. “Saya terserang tifus. Dokter menyarankan: Sebaiknya kamu dirawat intensif di rumah sakit,” begitu Hendra Prayoga alias Endra mengenang.
Mendengar vonis dokter, yang dipikirkan Endra saat itu, bagaimana nasib Armada? Bagaimana pertanggungjawabannya sebagai kepala keluarga terhadap istri dan anak? Tidak ada pilihan lain kecuali menyampaikan persoalan ini kepada manajemen yang menaunginya. Seberkas harapan terbit di hati, tifus tidak mustahil disembuhkan.
“Saya dirawat satu minggu di Rumah Sakit Suyoto Veteran, di Tangerang,” Endra melanjutkan. Rehat total selama sepekan dijalani. Setelah itu, suami Wiwit Grafitta kembali menggebrak panggung, merampungkan tur Ramadan yang padat. Menjelang Lebaran, Endra pulang ke Bandung.
Di sana, ia bersilaturahim dengan keluarga besar, mertua, lalu mencicipi ikan bakar, opor, dan koleksi kudapan Lebaran. Pada malam kemenangan itu, Endra baik-baik saja. Beberapa jam kemudian, bersamaan dengan terbitnya fajar, terbit pula rasa sakit dari dalam lambung.
“Saya muntah-muntah, dari pagi sampai malam. Dari muntahan berupa makanan sisa semalam, sampai muntahan berwujud cairan hitam,” sambungnya. Ayah dua anak ini dilarikan ke klinik dekat rumah. Menyaksikan kondisi Endra tanpa daya, dokter klinik tidak berani mengambil tindakan medis.
Saraf Mata Tertimpa Cairan
Dokter meminta keluarga membawa Endra ke Rumah Sakit Al Islam Bandung. Lagi-lagi, musisi kelahiran 29 November 1983 didiagnosis tifus. Ujian belum berakhir. Tujuh hari setelah vonis tifus, muncul vonis lain yang membuat Endra patah arang.
“Penyakit saya berubah jadi meningitis. Katanya, butuh setengah tahun agar saya bisa pulih 100 persen. Sepanjang September, saya terbujur di instalasi gawat darurat (IGD). Sampai-sampai saya ingin keluar dari Armada karena tidak ingin menyusahkan orang lain,” kata Endra lirih. Berganti bulan, ayah Ttanaya Qinthar Prayoga ini keluar dari kamar IGD, dirawat di bangsal reguler.
Naluri kebapakannya terusik. Si sulung Tanaya baru berusia dua tahun. Sementara si bungsu, Ttanaqi Falah Prayoga kala itu belum genap enam bulan. “Dalam tiga bulan, saya disuntik 90 kali. Kalau kepala keluarga sakit-sakitan, siapa yang akan mengurus anak istri?” Endra membatin.
Belum terjawab pertanyaan tadi, satu pertanyaan paling hakiki menyembul. Apa itu meningitis? Memori Endra merunut ke fase-fase awal ketika ia merasa pusing. Ubun-ubunnya seperti ditarik-tarik. Badan lemas, tidak bisa berbuat apa-apa. Seluruh tulang linu. Pernah, penglihatan Endra buram.
“Bukan karena penyakit mata. Saraf mata yang terhubung ke otak terendam cairan,” Endra menjelaskan. Beruntung, sang istri tak henti melayangkan dukungan dan doa. Bahkan, Wiwit mencari literatur ilmiah tentang definisi meningitis sebenarnya.
Meningitis itu radang selaput pelindung sistem saraf pusat. Penyakit ini disebabkan virus atau bakteri, luka fisik atau kanker. Sangat berbahaya karena menyerang area otak dan tulang belakang. Dalam beberapa kasus mengakibatkan kerusakan kendali gerak, pikiran, bahkan kematian.
“Di otak terlalu banyak cairan yang masuk sementara yang keluar segitu-segitu saja. Dan benar saja, ketika mata saya buram lalu menjalani pemeriksaan medis, dokter mata bilang penglihatan saya baik-baik saja. Tetapi ketika menjalani pemeriksaan saraf, ternyata saraf mata di otak tertimpa cairan kotor,” Endra menukas. Alhamdulillah, buram ini tidak mengakibatkan kebutaan.
Terapi dengan Ujung Bulu Ayam
Pudarnya penglihatan adalah salah satu efek samping meningitis. Sama seperti suntikan selama tiga bulan yang telah dijalani, berdampak negatif terhadap saraf pendengaran Endra. Telinganya sering terasa sakit, berpotensi mengurangi kepekaan indra dengar.
Kondisi Endra ketika diwawancara lebih segar dari yang sudah-sudah. Ia baru bisa menangani pekerjaan ringan seperti sesi foto. Maklum, meningitis itu telah menjalar ke beberapa organ lain, salah satunya hati. Inilah yang membuat Endra kerap muntah saat bersantap. “Jadi saya tidak boleh makan makanan yang keras, yang rasanya macam-macam,” beri tahunya.
Hal lain yang membuat pangling saat bertemu, Endra terlihat kurus. Berat badannya tinggal 50 kg. Bahkan pernah mencapai titik terendah di kisaran 48-49 kg. Dalam kondisi normal, bobotnya mencapai 57 Kg. Untuk urusan makanan, Endra menjadi superselektif.
Sejak tahun lalu, ia mengucap selamat tinggal kepada buah kelengkeng, semangka, melon, dan anggur. Juga melambaikan tangan terhadap kacang-kacangan, masakan bersantan, masakan pedas, dan gorengan. Sebagai gantinya, oatmeal dengan kuah susu atau nasi putih minus lauk.
“Jujur, saya bosan dan lelah dengan menu seperti ini. Merasakan makanan tanpa rasa itu sangat menjengkelkan. Tapi kalau ingat tujuan utama adalah sembuh, saya harus menjalani ini dengan ikhlas. Paling tidak, kalau setelah makan saya mual dan muntah, ada sesuatu yang dimuntahkan,” lanjutnya.
Semua ini membuat Endra belajar tentang sebuah pelajaran klasik. Selalu ada hikmah di balik musibah. Meningitis membuatnya tersadar, ada begitu banyak cinta di sekelilingnya. Istri yang setia, anak-anak yang selalu mengajaknya bermain dan tertawa, orangtua yang menerima apa adanya, dan teman-teman Armada yang memahami kondisinya adalah harta tak terkira. Kesehatan tidak dapat diuangkan.
“Sama seperti kerja adalah ibadah, menjaga kesehatan pun ibadah. Sebulan terakhir, saya ikut terapi tiap jam 8 pagi. Menjalani refleksi dengan ujung bulu ayam yang ditusuk ke ujung jari-jari kaki, untuk merangsang saraf. Setelah itu, main dengan anak-anak. Obat yang tidak kalah penting adalah semangat untuk sembuh. Saya mohon doa dari penggemar, agar segera pulih dan berkarya lagi bersama Armada,” pinta Endra mengakhiri perbincangan.

Minggu, 12 Februari 2012

Tentang Armada Band

ARMADA hanyalah nama baru di blantika musik Indonesia. Namun personelnya telah lama berkecimpung di dunia musik Indonesia. Terbentuk di Jakarta di pertengahan bulan Oktober 2007, band yang sebelumnya bernama Kertas ini telah meluncurkan album di tahun 2008 lalu berjudul "Balas Dendam" dengan hits single "Gagal Bercinta".

Hits tersebut cukup mendapatkan tempat di hati para pecinta musik Indonesia,terbukti berhasil menduduki posisi bergengsi di banyak radio di seluruh Indonesia,dengan periode yang cukup lama.hal ini di karenakan karakter band ARMADA yang begitu kuat dan menyuguhkan aliran music yang Berbeda.


Aliran music yang diusung oleh Armada adalah "Melancholic Pop".Aliran ini di bangun oleh karakter suara sang vokalis dan aransemen music yang begitu terasa melancholic dengan sentuhan musik yang banyak di pengaruhi oleh band - band legendaris dunia seperti The Beatles ,Queen,The Police dan band legendaris dunia lainnya.
 

Band ini dimotori Andith (DRUM), Rizal (VOCAL), Endra' (BASS), Mai (GUITAR) dan Radha (GUITAR). Tahun 2009, Armada band merilis album kedua 'Hal Terbesar' dengan single andalan 'Buka Hatimu'. Dan album ketiga mereka 'satu hati sejuta cinta'.
Rizal "Armada" Memiliki nama Lengkap Tsandi Rizal adi Pradana Lahir di Kota Palembang Pada Tanggal 04 Januari 1986. mempunyai satu orang ibu, ayah dan satu orang adik perempuan yang berdomisili di Kota kelahirannya Palembang tepatnya di Daerah Dwikora, Kecamatan Ilir Barat 1. di ARMADA, Rizal menduduki posisi Vokal, Rizal pernah memenangkan beberapa turnamen/lomba Nyanyi (Olah Vokal) pada saat di kota Palembang beberapa tahun silam. Rizal bersekolah di SMK Negeri 2 Palembang Jalan Demang Lebar Daun, ia mengambil Jurusan TGB (Teknik Gambar Bangunan) yang tak jauh dari rumahnya, Lebih Kurang 500 Meter. setamat SMK rizal melanjutkan pendidikannya di Politeknik Negeri Sriwijaya Jalan Srijaya Negara, Bukit Besar, Palembang. Pendapat Orang tentang Rizal : Budhe nya Rizal : Orang nya baik, ramah, murah ketawa (bukan murah senyum), pokok nya seru dehh... Tetangga nya Rizal : Aku dak poluk banyak tau tentang dio, soalnyo dio jarang nian balek kesini (Palembang), tapi aku seneng kalo jingok dio di TV.. (Bahasa Palembang)Terjemahannya :Aku gak tau banyak tentang Rizal, Soalnya dia jarang sech pulang ke Palembang, tapi aku seneng banget kalo liat dia (Rizal) tampil di TV.. Guru Rizal Sewaktu SMK : kalo semasa SMA dia dipanggil sandi.. menurut pandangan ibu Sandi tu, baik, gak bodoh, gak pinter tapi aktif loh bukan cerewet.. bisa dibilang biang kerok nya dikelas, biangkerok untuk bercanda.. satu lagi seinget ibu, kalo ibu lagi nerangin, kerjaannya nyanyi2 doang,,,